Detail Berita
Izin Dipermudah Investasi Mengalir, Sulsel Optimistis Hadapi 2020
Indonesia dan
Sulsel ikut terkena dampak dari tertekannya ekonomi global. Namun di tengah
kondisi tidak menentu itu, Sulsel optimistis bangkit di tahun 2020 berkat
kemudahan layanan investasi.
Berdasarkan data Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP)
Sulsel, realisasi investasi di Sulsel mencapai 1.030 proyek pada tahun 2019.
Jumlah tersebut meningkat jika dibandingkan akumulasi jumlah penanaman modal
dalam negeri (PMDN) dan penanaman modal asing (PMA) tahun 2018 yakni 908 proyek
dan 689 proyek di 2017.
Namun demikian mengalami penurunan berdasarkan nilai investasi yakni Rp10,2
trilun di 2019 dari Rp11,54 triliun tahun 2018 dan Rp11,48 triliun di 2017.
Sebaliknya PMA dan PMDN dari sisi lapangan kerja baik pekerja kategori TKI
maupun TKA naik pada 2018 dan kembali turun pada 2019. Lihat grafis.
Kepala Dinas DPMPTSP Sulsel, AM Yamin, mengatakan pemerintah terus berupaya
melakukan perbaikan untuk mendorong terciptanya iklim investasi. Sulsel di
bawah pemerintah Gubernur Nurdin Abdullah dan Wakil Gubernur Andi Sudirman
Sulaiman dinilai makin ramah investasi.
Yamin menyebut, Pemprov Sulsel bersama DPRD Sulsel sedang menggenjot peraturan
daerah (Perda) terkait kemudahan investasi. “Dengan perda nanti itu kita harap
terjadi sinergi. Dulu misalnya kami banyak bergerak sendiri, ke depan kita
harap bahwa kabupaten bergerak dan OPD lain ikut bergerak," katanya di Makassar,
kemarin.
Yamin mengemukakan, kemudahan perizinan di Sulsel sebenarnya diterapkan sejak
dulu. Dalam dua tahun terakhir disebut terus meningkat dengan meraih predikat
sebagai percontohan atau tolok ukur nasional sebagai provinsi dengan kemudahan
investasi.
“Kemudahan investasi kita sudah cukup bagus dan kita sudah jadi rujukan
nasional mulai dari Aceh sampai Papua, kita terima orang benchmark (tolok ukur)
untuk perizinan," ujarnya saat ditemui di kantor DPM-PTSP Sulsel, Jalan
Bougenville, Makassar.
Meski demikian, Yamin mengatakan DPM-PTSP tidak berpuas diri dengan pencapaian
tersebut. Pihaknya terus memperbaiki bagian yang masih dianggap kurang, salah
satunya adalah terkait regulasi pelayanan. “Makanya ke depan kita coba regulasi
terkait pelayanan bukan hanya perizinan tapi pelayanan, dengan regulasi ini
akan mengikat kita (stakeholder) menuju satu titik yang sama," jelasnya.
Selain itu, untuk memberikan kemudahan perizinan kepada para investor, DPM-PTSP
kini memiliki sistem perizinan berbasis daring yakni online single submission
(OSS) dan sistem informasi manajemen administrasi perizinan (Simap) online.
“Aplikasi perizinan online sudah, Simap ini nanti kita integrasikan dengan OSS
jadi semua secara online," katanya.
Yamin juga memuji Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah sebagai sosok yang investmen
friendly. Dia berharap sambutan hangat Nurdin Abdullah terhadap para investor
dari luar negeri semakin meningkatkan penanaman modal asing masuk ke Sulsel.
“Pak Gubernur memang seorang sosok yang investmen friendly, jadi beliau di
mana-mana bicara mengenai investasi dan perizinan. Dan sudah beberapa kali
beliau menerima rombongan investor dari luar dan kekihatan memang sudah ada
tanda-tanda lebih baik dari sebelum-sebelumnya," ujar dia.
Meski demikian, Yamin menilai tren investasi yang masuk ke Sulsel selama tiga
tahun terakhir cenderung turun dari segi nilai. Namun demikian meningkat dari
segi jumlah proyek. Namun menurut Yamin, tren tersebut tidak hanya terjadi di
Sulsel saja tapi secara nasional. Hal ini disebabkan oleh ketidakpastian
perekonomian global di tahun 2019.
"Kecenderungan tiga tahun terakhir memang ada sedikit penurunan, tapi
secara nasional juga seperti itu karena itu pengaruh dari global, jadi untuk
itu di dalam tahuh 2020 ini kita melakukan perbaikan-perbaikan," jelasnya.
Sedangkan Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Makassar Muammar
Muhayang, mengatakan tren dunia usaha pada tahun 2019 lalu memang cenderung
stagnan. Bahkan kondisi pada tahun 2017 dan 2018 dinilai lebih baik
dibandingkan tahun 2019.
Muammar menilai hal tersebut terjadi karena adanya pemilihan presiden dan wakil
presiden pada tahun 2019 lalu yang ikut memengaruhi minat investor. "Tahun
2019 kecenderungan usaha relatif stagnan, belum terlalu bagus itu karena
pengaruh pilpres. Kalau menurut kacamata kami dari Apindo, relatif lebih baik
2017 dan 2018 dibanding 2019 pengaruhnya karena ada politik jadi investor wait
and see," kata dia.
Faktor itu pula, kata Muammar, yang memengaruhi para investor asing sehingga
tren penanaman modal asing (PMA) memiliki proyek investasi yang cenderung lebih
rendah daripada proyek investor dalam negeri. Namun pada saat yang bersamaan,
investasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) di Sulsel cenderung meningkat.
"Artinya investasi asing masih wait and see melihat situasi perekonomian
Sulsel, tapi saya optimis di 2020 akan banyak realisasi dari investasi
asing," katanya.
Meski demikian, Muammar menilai peran pemerintah provinsi Sulsel dalam
mendukung dunia usaha sangat baik. Apalagi, kata dia, dibawah kepemimpinan
Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah yang berkomitmen memberikan kemudahan perizinan
kepada para pelaku usaha.
"Kalau peran dari pemerintah khususnya pemprov sulsel, saya lihat sudah
mulai ada komitmen dari Pak Gubernur untuk memberikan kemudahan kepada dunia
usaha dan industri, perizinan sudah mulai disederhanakan dan itu membantu dan
memberi sinyal bahwa industri akan lebih mudah masuk di Sulsel," katanya.
Muammar berharap, regulasi atau peraturan untuk penyederhanaan investasi di
Sulsel yang digenjot sejak tahun 2019 lalu sudah mulai dapat diimplementasikan
tahun 2020 ini. "Pengaruh (kemudahan izin) luar biasa karena bisa
menghemat waktu dan bisa mempercepat keputusan kita dalam mengambil keputusan
bisnis," pungkas dia.
Pengamat Ekonomi Unhas, Anas Anwar mengatakan untuk mendorong investasi masuk
ke Sulsel diperlukan dua hal, yakni regulasi yang berpihak kepada investor dan
sistem permodalan dari perbankan yang tidak membebani, artinya tidak memberikan
bunga tinggi.
Dia menilai sepanjang tahun 2019, terdapat banyak tantangan yang dihadapi oleh
para investor, utamanya adalah tahun politik dan kondisi perekonomian global
yang tidak stabil.
Selain itu, Anas juga mengomentari proyek investasi dari dalam negeri yang
cenderung lebih banyak jumlahnya tapi dengan nilai yang lebih rendah
dibandingkan proyek investasi PMA yang lebih sedikit tapi lebih tinggi
nilainya. “Kalau mau bagus dua-duanya kita dorong, karena kita butuh yang besar
juga bukan hanya jumlah, bagus kalau jumlah dan nilai proyek besar,"
katanya.
Recent Post
Di Depan 2 Ribu Saudagar, Gube...
27 Maret 2026
Tak Ada Izin di Pemprov Sulsel...
25 Februari 2026
Rp500 Miliar Investasi Singapu...
06 Februari 2026
Lampaui Target RPJMD, Investas...
05 Februari 2026
Gubernur Sulsel, Andi Sudirman...
10 Januari 2026
Asrul Sani Menerima Penghargaa...
26 November 2025
FGD Implementasi PP 28 tahun 2...
12 November 2025
Butuh Bantuan?
Memiliki pertanyaan mengenai terkait detail Perizinan di Sulawesi Selatan ?
Hubungi Kami