Home / Profil Kabupaten dan Kota

Profil Kabupaten Maros

Profil Kabupaten Maros

GEOGRAFI DAN IKLIM

Kabupaten Maros merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan, Maros terletak di bagian Barat Sulawesi Selatan antara 40045’-50007’ Lintang Selatan dan 1090205’-129012’ Bujur Timur yang berbatasan dengan Kabupaten Pangkep sebelah utara, kota Makassar dan Kabupaten Gowa sebelah Selatan, Kabupaten Bone disebelah Timur dan Selat Makassar disebelah Barat. Luas wilayah Kabupaten Maros 1.619.12 Km2 yang secara administrasi pemerintahnya terdiri 14 kecamatan dan 103 Desa/Kelurahan. Kabupaten Maros terletak + 30 kilometer arah utara Kota Makassar, Ibukota Provinsi Sulawesi Selatan. Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin terletak di kabupaten ini.

Berdasarkan pencatatan Badan Stasiun Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) rata-rata suhu udara bulanan di Kabupaten Maros adalah 260C dan 27,60C tiap bulannya. Suhu bulanan paling rendah adalah 19,90C sedangkan paling tinggi adalah 34,60C. 

Iklim Kabupaten Maros tergolong iklim tropis basah dengan curah hujan rata-rata sekitar 396 mm setiap bulannya, dengan jumlah hari hujan berkisar 148 hari selama tahun 2016, dengan rata-rata suhu udara minimum 320C dari rata-rata suhu udara maksimum 23,90C.

Penyinaran matahari selama Tahun 2016 rata-rata berkisar 73%. Secara geografis daerah ini terdiri dari 10% (10 Desa) adalah pantai, 5% (5 Desa) adalah kawasan lembah, 27% (28 Desa) adalah lereng bukit dan 58% (60 Desa) adalah dataran.

PEMERINTAHAN

Sejak diberlakukannya Otonomi Daerah pada tahun 2001, jumlah Kecamatan di Kabupaten Maros tidak mengalami perubahan karena pemekaran, jumlah Kecamatan di Kabupaten Maros sebanyak 14 yang terdiri dari 80 Desa dan 23 Kelurahan (103 Desa/Kelurahan).

Dari 103 Desa/Kelurahan, terdapat 89 Lingkungan dan 320 Dusun. Menurut klasifikasi Desa/Kelurahan, masih terdapat 22 Desa/Kelurahan Swakarya. Sedangkan sisanya sebanyak 59 yang sudah Swasembada.

KEPENDUDUKAN

Penduduk Kabupaten Maros berdasarkan sensus Penduduk tahun 2017 berjumlah 346.383 jiwa, yang tersebar di 14 Kecamatan, dengan jumlah Penduduk terbesar yakni 44.621 jiwa yang mendiami Kecamatan Turikale. 

Secara keseluruhan, jumlah penduduk yang berjenis kelamin perempuan lebih banyak dari penduduk yang bejenis kelamin laki-laki, masing-masing perempuan 176.950 jiwa dan laki-laki 169.433 jiwa.

Laju pertumbuhan penduduk per tahun rata-rata sebesar 1,06%, dimana Kecamatan Cenrana memiliki laju pertumbuhan terendah yakni 1,05%. Tingkat kepadatan penduduk tertinggi ditemukan di Kecamatan Turikale 1.490,85 jiwa/km2, sedangkan yang terendah di Kecamatan Mallawa 49


KETENAGAKERJAAN

Pada tahun 2017, jumlah penduduk Kabupaten Maros yang berumur 15 tahun ke atas dan merupakan angkatan kerja sebanyak 142.621 jiwa, sedangkan yang bukan angkatan kerja sebanyak 104.114 jiwa.


PROYEK INVESTASI

Kawasan Industri Maros (KIMAS)

Pada periode 3 tahun terakhir, terjadi perbedaan perkembangan sektor industri antara Kota Makassar dan Kabupaten Maros. Dimana untuk Kota Makassar ada kecenderungan tingkat persentase pertumbuhannya menurun, sementara Kabupaten Maros cenderung semakin naik, sehingga perkembangan industri di Kabupaten Maros sangat memungkinkan untuk berkembang lebih pesat di masa yang akan datang.

Rencana Kawasan Industri Maros terletak di bagian selatan Kabupaten  Maros meliputi wilayah desa Bontomatene, Kecamatan Marusu dan Kelurahan Palantikang Kecamatan Maros Baru. Kawasan akan didirikan di atas lahan seluas 200 Ha. KIMAS berada dijalur utama trans Sulawesi lebih mudah diakses oleh transportasi pengangkut bahan baku yang bersumber dari sejumlah daerah di Sulawesi Selatan. Terutama bahan baku untuk barang atau komoditi bernilai ekspor seperti kakao, kopi, cengkeh, merica, kopi, rumput laut, hasil-hasil pertanian, peternakan dan berbagai komoditi lain yang banyak dihasilkan di daerah kabupaten bagian dalam pulau Sulawesi. 

Selain transportasi darat, KIMAS memiliki akses yang terbuka melalui transportasi laut. Dibanding dengan daerah lain di Sulawesi Selatan, jarak Kabupaten Maros dengan pelabuhan Internasional Soekarno-Hatta Makassar terbilang lebih dekat. Pesisir Kabupaten Maros yang masuk dalam perairan makassar juga sangat potensial untuk dikembangkan sebagai kota pelabuhan. Begitu pula untuk transportasi udara, dari KIMAS ke Bandara Internasional Sultan Hasanuddin hanya ditempuh kurang lebih 30 sampai 40 menit.


Kawasan Industri Kecamatan Marusu

Lokasi pengembagan Kawasan Industri Kabupaten Maros pada lokasi yang tersedia saat ini yakni Desa Pabbentengan di Kecamatan Marusu dengan luas + 100 Ha, dilokasi ini telah berdiri beberapa industri, namun sebagian besar masih kosong. Lokasi ini sebagian merupakan lahan milik masyarakat yang merupakan bekas sawah atau ladang yang tidak digunakan lagi. Posisi lokasi investasi ini berada pada 5003’04.05" Lintang Selatan dan 119030’48.26" Bujur Timur dan berjarak 7,2 Km dari Bandara Internasional Sultan Hasanuddin yang dapat ditempuh dalam waktu 14 menit.

Sementara lokasi pengembangan kawasan industri yang baru berlokasi di desa Abulosibatang, desa Tellumpoccoe dan desa Bonto Matene dengan luas mencapai + 800 Ha. Lahan ini masih bersifat bruto dan belum dilakukan pengukuran di lapangan.

Peluang/kegiatan investasi pengembangan Kawasan Industri Maros lokasi Desa Abulosibatang, Desa Tellumpoccoe dan Desa Bonto Matene Kecamatan Marusu Kabupaten Maros dengan nilai perkiraan investasi sebesar Rp 770.000.000.000,- 

Pengembangan Kawasan Industri Maros yang terdiri dari beberapa kegiatan investasi antara lain:

a. Pembebasan lahan seluas 100 Ha

b. Pembuatan jalan dan drainase

c. Pembangunan jaringan listrik dan infrastruktur pendukung lainnya.


POTENSI DAN PELUANG INVESTASI

Sektor Pertanian

Kabupaten Maros merupakan salah satu wilayah kabupaten yang memiliki pengusahaan pertanian yang sangat strategis di Sulawesi Selatan. Total produksi padi sebesar 299.539,14 Ton dengan luas panen 56.356,60 Ha. Luas Panen jagung 4.209,2Ha dengan total produksi sebesar 21.157,544 ton. Luas panen kedelai 700,4 Ha dengan total produksi 903,516 ton. Luas panen kacang tanah 758,2 Ha dengan total produksi 1.198,054 ton, ubi kayu luas panen 1.552 Ha dan total produksi 36.001,744 ton, sedangkan ubi jalar luas panen 163 Ha dengan total produksi 2.130,166 ton.

Sedangkan jenis komoditi tanaman sayur-sayuran dan buah-buahan terdiri dari cabai, bawang merah, mangga, durian, pisang, pepaya dan nanas dengan luas panen sebanyak 2.650 Ha dan total produksi 73.409,9 ton.

Sektor Perkebunan dan Kehutanan

Luas dan total produksi tanaman perkebunan, yang terdiri dari Kelapa seluas 526 Ha dan total produksi 125 ton, kakao seluas 1.730 Ha dan total produksi 586,80 ton. Sedangkan kemiri seluas 6.300 Ha dengan total produksi 2.099,8 ton.

Kawasan hutan di Kabupaten Maros terdiri Hutan Lindung, Suaka Alam dan Pelestarian Alam, Hutan Produksi terbatas dan Hutan Produksi Biasa. Kabupaten Maros memiliki potensi kehutanan berupa tegakan pinus yang terdapat di 4 kecamatan, yakni Kecamatan Tompobulu, Kecamatan Cenrana, Kecamatan Camba, dan Kecamatan Mallawa.

Sektor Perikanan dan Kelautan

Usaha perikanan di Kabupaten Maros terdiri atas perikanan tangkap dan perikanan budidaya. Produksi perikanan tangkap yang terdiri dari perikanan laut 15.259,6 ton, perikanan sungai/danau/rawa 523,2 ton dengan total produksi 15.782,8 ton.

Untuk perikanan budidaya, produksinya masing-masing adalah budidaya laut 7,4 ton dan sawah 39,7 ton dengan total produksi sebesar 14.378,7 ton.

Sektor Pertambangan

Potensi bahan galian di Kabupaten Maros terdiri dari bahan galian golongan A dan golongan C. Sektor pertambangan dan bahan galian dalam 5 tahun terakhir ini menunjukkan angka pertumbuhan secara signifikan.

Melihat peningkatan potensi hasil pertambangan dan bahan galian di Kabupaten Maros yang beraneka ragam dan tersebar sehingga menuntut kemampuand aerah untuk pengelolaan melalui kemudahan investasi di sektor pertambangan dan penggalian. Potensi sumber daya mineral di Kabupaten Maros menurut jenisnya meliputi lempung, batu gamping, marmer, pasir kuarsa, oker, basal, andesit, diorit, granodiorit, trakit, batu pasir formasi camba, kerikil dan batu sungai, serta pasir sungai. 

Potensi pertambangan galian di Kabupaten Maros telah terinvestasi melalui kegiatan penambangan. Salah satu perusahaan tambang yang memiliki pengaruh cukup besar adalah Bosowa Group yang memiliki dua perusahaan bahan galian besar di Maros yang memproduksi semen dengan produksi 1,8juta ton/tahun dan marmer 0,1 juta ton/tahun dengan perkiraan terdapat kapasitas 2,6 milyar cadangan marmer di Maros (Direktori Sulawesi Selatan 2004 pp. 90-91)


Untuk informasi lebih lengkap, silahkan download file pada link Download 1 untuk Bahasa Indonesia dan Download 2 untuk Bahasa inggris pada bagian atas.